Jiwa Yang Selalu Merasa Kaya

Uncategorized 1 Comment »

MasjiduiTetangga yang memiliki mobil baru, rekan seprofesi yang kariernya cepat menanjak, teman kuliah yang rata-rata sukses, tak terasa menimbulkan benih-benih kedengkian dalam hati. Setan lalu membisikkan khayalan dan angan-angan lebih jauh lagi. Padahal ada begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.

Anak-anak yang cerdas dan penurut, rumah tangga yang tenang dan tentram, pekerjaan yang halal, adalah anugerah Allah yang patut disyukuri. Namun kita begitu sering melupakan nikmat yang Allah berikan itu dan lebih suka membandingkannya dengan orang lain, padahal mensyukuri nikmat akan menambah besarnya nikmat itu sendiri. Mengapa tidak bersikap qona’ah saja dengan skenario Allah? Sebab Allah-lah yang lebih mengerti akan kebutuhan kita.

Jika Allah tidak memberi harta berlimpah kepada kita, itu bisa jadi karena kita yang belum siap. Allah tidak ingin kita menjadi pribadi yang sombong dan takabbur. Allah tidak ingin kita menjadi seperti Fir’aun dan Qorun yang mengkufuri nikmat. Jika Allah belum memberi kita kedudukan yang baik dalam karier, itu mungkin karena Allah masih menganggap kita belum mampu memegang amanah, yang justru malah akan menjatuhkan kita.

Jadi, mengapa harus muncul benih-benih kedengkian? Toh semuanya sudah diatur oleh Allah dengan seadil-adilnya dan seproporsional mungkin. Kita tinggal berusaha dan menjalaninya dengan lapang dada, tak perlu muncul keluh kesah apalagi murka. Kedengkian hanya akan membuat hati kita selalu gelisah dan akan menghilangkan kebaikan seperti api yang melalap kayu bakar. Hati kita akan terus menerus merasa tidak puas, terombang-ambing oleh perasaan ketidak-adilan semu. Akhirnya depresi yang terjadi, dan kita sendirilah yang rugi.

Mari renungkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa salam berikut ini: "Orang yang kaya bukanlah dengan harta benda akan tetapi orang yang kaya adalah kaya jiwa" (HR Syaikhani dari Abu Hurairah). Maka kekayaan yang hakiki adalah kaya jiwa, dalam arti tidak tamak apa yang ada pada orang lain, tamak terhadap harta, jabatan, kemasyhuran atau wanita yang dimiliki oleh orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal." (Thaha: 131)

Jiwa yang kaya merasa yakin bahwa rezekinya akan datang seperti janji Allah: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya…" (al-Hud: 23) sehingga hatinya merasa tenang dan tentram, tidak bermusuhan dengan orang lain hanya karena masalah dunia.

Seperti jawaban Hatim al-Asham yang suatu hari ditanya, "Atas dasar apa engkau bertawakkal dalam masalah ini?" Beliau menjawab, "Atas empat hal: aku tahu bahwa rizkiku tidak akan dimakan oleh seseorang, karena itu hatiku tenang, aku tahu bahwa amalku tidak akan pernah dilakukan oleh seseorang, karena itu aku sibuk dengannya, aku tahu bahwa kematian akan datang dengan tiba-tiba, karena itu aku mempersiapkannya, dan aku tahu bahwa aku selalu ada dalam pengawasan Allah, karena itu aku malu kepada-Nya."

Atau seperti jawaban ‘Ali bin Abi Thalib ketika dimintai pendapat, "Wahai Abul Hasan, terangkanlah sifat dunia kepada kami!" Lalu beliau berkata, "Dengan ungkapan yang panjang atau pendek?" Mereka berkata, "Dengan ungkapan yang pendek saja." Beliau berkata, "Yang halal dari dunia pasti akan diperhitungkan sedangkan yang haram darinya adalah bekal yang menjerumuskan ke Neraka."

Begitulah prinsip kehidupan yang mereka jalani, yang bisa menjadi pelepas dahaga bagi jiwa-jiwa yang kering dan tamak. Prinsip hidup yang datang dari hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Prinsip yang semoga mampu menggedor pintu kesadaran jiwa kita yang kini hanyut pada ambisi-ambisi dunia, jiwa yang selalu menuruti keinginan hawa nafsu. Mampukah kita menerapkannya?

Penulis : MT Aminudin

Sumber : www.jilbab.or.id

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Mengapa Harus Malu?

Uncategorized 1 Comment »

Written by Ummu Raihanah    

Kamis, 14 Desember 2006

Whiterose

“Ah,…Cuma ibu rumah tangga aja kok!” dengan malu-malu dan tersipu seorang akhwat menjawab pertanyaan kawannya tentang aktifitas apa yang di gelutinya sekarang. Sedangkan di kalangan ikhwan yang pernah penulis temui, ada diantara mereka yang malu untuk menjawab profesi istrinya bila istrinya bukan seorang dokter, insinyur, guru, atau profesi terhormat lainnya. Maka jawaban yang muncul adalah :” biasa di rumah saja, mengurus anak-anak, Cuma ibu RT aja,… ga ada aktifitas lainnya!” Duh,sebegitu hinakah profesi ini ?

Padahal ketika penulis berinteraksi dengan wanita barat sewaktu di negeri Kanguru diantara mereka ada yang menjawab, “Wow, profesi yang hebat tidak semua wanita mau menekuninya, I can’t do that!” Ya,..karena mereka melihat betapa sulitnya untuk menjadi istri sekaligus ibu yang baik bagi anak-anak. Saking beratnya, mereka memilih memasukkan anak-anak mereka di child care. Anda akan melihat dengan mata kepala sendiri panjangnya daftar antrian para orangtua yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke tempat penitipan anak (childcare). Anda harus menunggu minimal selama 6 bulan sebelum nama anak anda di panggil*. Rata-rata mereka memilih bekerja daripada mengasuh anak dirumah. Suatu fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa para ibu dikalangan wanita barat memilih “melarikan diri” dari tugas dan tanggungjawabnya sebagai ibu dengan bekerja. Mereka bilang kepada penulis lebih mudah bekerja daripada tinggal dirumah mengasuh anak.Mengasuh anak membuatku stress! Itu yang penulis dengar. Bukankah itu suatu bukti bahwa mengurus anak-anak adalah suatu pekerjaan dan tanggung jawab yang berat? Lalu dimana penghargaan masyarakat kita terhadap ibu? Terlebih suami?

Itu baru dilihat dari satu sisi saja,…tidakkah anda melihat bahwa seorang istri atau ibu dirumah tidak pernah berhenti dari tugasnya?.Jika para suami mempunyai jam kerja yang terbatas antara 8-10 jam misalnya maka sesungguhnya seorang ibu rumah tangga mempunyai jam kerja yang lebih panjang yaitu selama 24 jam. Ia harus standby (selalu siap) kapan saja diperlukan. Bila diantara anggota keluarga ada yang sakit, siapakah yang bergerak terlebih dahulu? Bukankan seorang ibu/istri adalah dokter pribadi sekaligus perawat (suster) bagi suami dan anak-anaknya? Karena beliaulah yang akan berusaha meringankan beban sakit “sang pasien” dirumah sebelum di bawa kerumah sakit (yang sebenarnya) apabila ternyata sang ibu tidak sanggup mengobatinya. Pernahkah anda memikirkan berapa jumlah uang yang harus anda keluarkan untuk membayar seorang dokter dan perawat pribadi dirumah anda?

Bukankah seorang ibu juga seorang psikolog? Karena tentu anda melihat sendiri kenyataan ketika datang anak-anak mengeluh dan mengadu atas kesusahan atau penderitaan yang mereka alami maka sang ibu berusaha mencari jalan keluar dengan saran, nasehat dan belaian kasih sayang. Begitupula suami ketika merasa resah dan gelisah bukankah istri menjadi tempat curahan? Tak jarang para istri membantu suami meringankan dan memberi jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapinya. Penulis lihat sendiri betapa mahalnya bayaran seorang psikolog di

Australia

ada diantara mereka yang harus membayar $100 perjam dan tentu saja tidak ada jaminan mereka bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang anda hadapi. 

Bukankan seorang istri/ibu dituntut untuk pandai memasak? Pernahkah anda membayangkan wahai para suami, anda memiliki juru masak dirumah yang selalu siap anda perintah kapan saja anda mau. Anda memiliki juru masak pribadi dirumah, ketika anda pulang ke rumah maka hidangan lezat tersedia bagimu dan juga untuk anak-anakmu. Pernahkah anda membayangkan berapa juta uang yang harus anda keluarkan untuk mengundang juru masak pribadi datang kerumah anda? 

Masih banyak sisi lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. Anda tentu pernah membaca syair Arab yang sangat terkenal yang berbunyi :” Al-Ummu madrasatun idza a’dadtaha ‘adadta sya’ban tayyibul ‘araq” maknanya "seorang ibu adalah sebuah sekolah. Jika engkau persiapkan dia dengan baik maka sungguh engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang unggul". Ditangan ibulah masa depan generasi sebuah bangsa.Karena itulah islam sangat menghormati dan menghargai profesi ini. Kenyataan yang tidak bisa di pungkiri bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dibandingkan sang ayah.** Karena Islam melihat tanggung jawab yang berat yang di emban seorang ibu, itu menandakan bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia dan sangat terhormat. Lalu mengapa kita masih malu ya ukhti?? Ayo,..angkatlah wajahmu dan katakan dengan bangga bahwa aku adalah seorang “ibu rumah tangga!!” sebuah profesi yang sangat berat dan tentu saja pahala yang sangat besar Allah sediakan untukmu. Al-jaza’u min jinsil amal artinya balasan tergantung dari amal/perbuatan yang ia lakukan.Semakin berat atau sulit sebuah amal dilakukan seorang hamba maka pahala yang akan didapatinya pun semakin besar. Wallahu a’lam bisshawwab.

Footnote:

*Tak jarang para orang tua ada yang harus menunggu selama 1 tahun karena penuh dan banyaknya antrian (waiting list) dari tahun sebelumnya.

**Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia menceritakan, ada seorang yang datang kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam seraya bertanya :”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab: Ibumu! Orang itu bertanya lagi: “Lalu siapa?” Ibumu! Jawab beliau. Lalu siapa lagi? Tanya orang itu, Beliaupun menjawab: Ibumu!, Selanjutnya bertanya:”Lalu siapa?” Beliau menjawab: Ayahmu” (Mutaffaqun Alaih).

Imam Nawawi mengatakan; Hadits tersebut memerintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabat dan yang paling berhak mendapatkannya diantara mereka adalah ibu, lalu ayah dan selanjutnya orang-orang terdekat.

Didahulukannya ibu dari mereka itu karena banyaknya pengorbanan, pengabdian, kasih sayang yang telah diberikannya. Dan, karena seorang ibu telah mengandung, menyusui, mendidik, dan tugas lainnya” tutur para ulama (lihat Al-Jami’ Fi fiqh Nisa bab birru walidain Syaikh Kamil ‘Uwaidah)

Muraja’ah oleh : Ustadz Eko Hariyanto Lc   


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in