Ketika Sunnah Tak Lagi Indah
Uncategorized January 20th, 2007Sebentar lagi Ummat Muslim indonesia akan merayakan "Maulid Nabi besar Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam"Haruskah kita merayakannya?
Kita ketahui, para shohabat yang lebih ‘alim dari kita, paling wara’ ketimbang kita, paling dekat generasinya dengan Rasul kita, adakah dari mereka merayakannya? jawabnnya"sekiranya amalan itu baik tentu mereka(para sahabat) telah mendahuluinya[demikian ustadz Hakim bin Amir al Abdat mengatakan].
Peringatan Maulid Nabi bukan sekedar bid’ah melainkan adalah bagian dari tasyabuh’(menyerupai suatu kaum) di mana Kaum nasroni mempunyai hari di mana di kelahiran Isa al Masih. Bukankah ini suatu hal yang di ada-adakan?…Rasul sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6025)
Sampai kapan ummat ini akan kembali jaya seperti dulu, ketika kebid’ahan terus menggerogoti inti dari Islam itu yaitu sunnah. Kenapa? karena Imam al Barbahari mengatakan sunnah adalah Islam dan Islam adalah sunnah[lihat kitab aqidah Imam syafi'i]
Imam Malik rahimahulloh pun berkata"Islam ini tidak akan baik kalau tidak kembali seperti bagai mana para salaf(terdahulu) berislam…karenanya sakiranya para salaf terdahulu tidak melaksanakannya(Maulid) kenapa kita justru melaksankannya, dari mana di dapatkan suatu hujjah bahwa Maulid bagian dari Islam?…sekiranya Imam Syafi’i Masih hidup di tengah-tengah kita tentu beliau akan berlepas diri darinya(peringatan itu) karena beliaupun berkata dalam kitab arrisalahnya bab istihsan[1], begitu jug dalam al Ummnya jilid satu bab batalnya istihsan"haram bagi seseorangyang melakukan istihsan tanpa ada landsan dalil dari al qur’an dan as sunnah.[dengan teks mengalami perubahan].
Dari mana kita akan mendapat keterangan pahalanya sementara dalil yang menjelaskannya tidak ada, apakah dari kyai, ustadz atau nenek moyang kita? tidak segala hal tentang ibadah syari’ah datangnya bersifat tauqifi(menunggu dalil). Apa yang kurang dari apa yang rasul sampaikan? Ibnu Ummar pun pernah berkata"bid’ah itu jelek sekalipun kebanyalkan orang menganggapnya baik".
perhatikan ayat berikut:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِه أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِمَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَسَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّه مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآ ءَتْ مَصِيْرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah menguasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)
Sudahkah diri-diri kita, amalan-amaln kita, aqidah kita terbebas dari bid’ah?…semoga Alloh memberi kemudahan kepada kita agar keislaman kita seperti Islamnya generasi terdahulu, Islamnya para salafus sholih, Islamnya para shahabat ridwanallohu ‘anhum jami’an…
———–
1. Istihsan adalah menganggap suatu amalan itu baik tanpa landasan dalil yang menerangkannya.
January 21st, 2007 at 1:35 am
tambahan ukh…
12 Rabiul awwal yg slm ini dianggap hari lahir tnyata mnrt sejarah adl hari meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam..
tanggal lahir beliau, justru diperselisihkan, sekitar tl 8 atau 9….
January 21st, 2007 at 8:33 am
oh yaaa??wahh alhamdulillah nih dpt ilmu baru…
sumber nya apa ka melvi klo boleh tau?
February 26th, 2007 at 3:59 pm
Perkara Hari Besar Islam telah lama menyibukkan kaum muslimin dari Timur sampai Barat; dari ulama sampai awam. Masalah itu membuat mereka berpecah dan saling membenci sehingga lemahlah barisan umat. Keabsahan peringatan Hari-hari Besar Islam, selain Idul Fithri dan Idul Adha, tidak pemah menemui kata sepakat. Satu pihak mengatakannya sebagai ritual bid’ah dhalalah (bid’ah sesat), sementara pihak lain mengatakan bid’ah hasanah, bahkan sunnah atau wajib. Jadi, perpecahan tidak dapat dielakkan lagi seperti yang pernah terjadi pada masa-masa lampau. Padahal, mereka memahami benar bahwa perpecahan adalah bid’ah yang lebih besar dibanding bid’ah yang mereka ributkan itu.
Masa kini, kaum muslimin umumnya sudah relatif dewasa menghadapi perbedaan furu’iyah seperti itu. Hampir tidak terdengar lagi keributan seputar furu’iyah. Siapa yang kembali memunculkan keributan di tengah umat Islam yang sudah melupakan polemik terhadap masalah tersebut, orang-orang seperti itu layak disebut manusia yang menodai ilmu dan agamanya sendiri. Bagaimana tidak? Orang awam yang masih pada taraf taqlid saja mampu menahan diri dan memahami perkara khilafiyah, apalagi mereka disebut syaikh, ustad, ‘alim, dan faqih lebih mengetahui hal itu dan cara penerapan moralnya. Kekerdilan terjadi ketika tindakan mereka menjadi bodoh dengan tidak mampu bersikap bijak seperti orang awam menghadapi khilafiyah furu’iyah.
Hasan al Banna dan Ikhwanul Muslimun mendapat tuduhan sekaligus celaan yang amat tidak pantas dilontarkan Ahli Kiblat, bahkan orang non-muslim sekali pun. Alasan mereka adalah sikap al Banna yang mengakomodasi peringatan Maulid Nabi dan hari besar Islam lainnya. Isi celaan yang dilontarkan Syaikh Farid bin Ahmad bin Manshur—semoga Allah Swt mengampuninya.
“Jamaah Ikhwan banyak menghidupkan bid’ah. Sa’id Hawwa mengatakan dalam bukunya at Tarbiyah arRuhiyah, ‘Ustad al Banna beranggapan bahwa menghidupkan Hari-hari Besar Islam (selain dua hari raya) adalah termasuk tugas harakah-harakah Islam. Beliau pun menganggap satu hal yang aksiomatik dan pasti jika dikatakan pada zaman modern ini memperingati Hari-hari Besar semacam Maulid Nabi dan sejenisnya dapat diterima secara fiqh dan harus mendapat prioritas tersendiri. Dikisahkan juga dan Mahmud Abdul Halim dalam Ahdats Shana’at Tarikh bahwa ia sering bersama al Banna menghadiri peringatan Maulid Nabi. la (al Banna) sendiri terkadang maju ke pentas untuk membawakan nasyid Maulid Nabi Saw dengan suara lantang dan keras.
Setelah mengutip banyak kisah al Banna itu, Syaikh Farid bin Ahmad berkomentar, “Semoga Allah memerangi pelaku-pelaku bid’ah. Alangkah bodohnya mereka. Alangkah lemahnya akal mereka. Sesungguhnya mereka melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan bahkan oleh anak kecil sekalipun’.”88
Komentar emosional itu tidak sepantasnya terjadi, apalagi dengan menyebutkan bodoh dan lemah akal.89 Seperti yang kami katakan bahwa orang awam telah mengetahui Maulid Nabi adalah khilafiyah dalam masalah furu’ (cabang) fiqh sejak lama. Sebuah keajaiban jika ada seorang syaikh berpolah seakan tidak mengetahui khilafiyah dengan menyerang pihak lain yang menganggap sah Maulid. Sungguh para ulama telah mengatakan, “Siapa yang tidak mengetahui perselisihan dalam fiqh, ia belum mencium aroma fiqh.”
Ada baiknya manusia memperbaiki dirinya dengan meneladani para ulama Rabbani yang menjadi rujukan umat. Sungguh, kami bukanlah penyeru syiar Maulid, tetapi bukan pula pengingkarnya seraya menghakimi dengan mengatakan bid’ah, sesat, haram, batil, keluar dari Ahlus Sunnah. Sikap salaf sejati dalam masalah ini amat jelas. Mereka tidak keras terhadap sesuatu yang seharusnya dilembutkan, mereka pun tidak benci terhadap sesuatu yang seharusnya dikeraskan.
Para salafush shalih lebih sering berkata, “Aku tidak menyukainya”, “tidak disyariatkan”, “lebih baik jangan” daripada berkata haram dan bid’ah. Contoh yang baik di sini adalah sikap etis Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah ketika beliau menerangkan perselisihan dalam masalah qunut subuh (kami tidak bermaksud meng-qiyas-kan masalah Maulid dengan qunutsubuh. Ini hanya upaya pengambilan ‘ibrah yang ada dalam sikap Ibnul Qayyim) dalam bukunya, ZaadulMa’ad.
Beliau berkata, “Pada kesempatan ini, saya hanya bermaksud menyebutkan petunjuk Nabi Saw karena petunjuk beliau merupakan kiblat bagi semua tujuan dan menjadi arahan kitab ini. Dalam kitab ini, saya tidak mengemukakan sesuatu boleh atau tidak boleh, tetapi saya hanya ingin mengemukakan petunjuk Nabi Saw yang beliau pilih untuk dirinya. Itulah petunjuk yang lebih sempurna dan utama. Jika saya katakah bahwa dalam petunjuk Nabi Saw, qunut subu tidak dilakukan terus-menerus dan beliau tidak men-jahr basmalah, bukan berarti saya membenci atau menuduh bid’ah orang yang mempraktikkannya. Namun, petunjuk atau praktik Rasulullah Saw merupakan petunjuk yang paling sempurna dan paling utama.”90
Demikianlah Ibnul Qayyim. Beliau sukses menjadikan dirinya dikuasai ilmu dan hati nurani, bukan hawa nafsu dan emosi. Pernahkah kita berpikir seperti Imam asy Syafi’i yang pernah berkata, “Pendapatku benar, mungkin juga mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, mungkin juga mengandung kebenaran.” Lihatlah dialog indah melalui surat antara dua Imam besar yang banyak berselisih paham, yaitu Imam Malik dan Imam Laits bin Sa’ad {masih banyak contoh lainnya). Subhanallah! Semua itu bentuk keteladanan yang tidak boleh disia-siakan. Keindahan salaf ridhwanullah ‘alaihim dalam bersilang paham terlalu besar untuk dilupakan hanya untuk memenangkan dalil (ego) pribadi atas dalil orang lain.
——————–
87 Yusuf al Qaradhawy, 70 Tahun AlIkhwan Al Muslimun, him. 313.
88 As Sunnah edisi05/Th. III/1419-1998, him. 26-27.
89 Rasulullah Saw mengajarkan umatnya agar mereka menghormati orang-orang besar dan ulama umat. Rasulullah Saw bersabda, “Bukan umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR Imam Ahmad).
90 Ibnul Qayyim, Petunjuk Nabi Saw Menjadi Hamba Teladan dalam Berbagai Aspek Kehidupan, him. 225. Lihat pula Fatwa-fatwa Kontemporer jilid I, him. 308-309
March 1st, 2007 at 3:21 am
af1 ukh, ilmu ana masih sangad2 kurang.
mnurut spengetahuan ana, di tinJau dari Zaman seJarah..
mengapakah maSi ada saJa yang merayakan mauLid..
itu karna pada waktu Islam masuk pertamakali ke Indonesia yang melalui waLi songo, mereka masi mentoLerir adanya pencampur adukan antara aqidah isLam dengan aJaran hindu budha di Indonesia(mengadakan sLamatan dLL nya itu).
dengan harapan..
agar Islam dapat lebih mudah diterima di Indo.. dan esok2 hari ada orang yang bisa untuk meluruskannya kmbaLi.
nah, tantangannya adLh..
bagaimana kita sbg generasi yang Lebih tw iLmunya bisa Langsung mentabLighkan bagaimana sharusnya.
afwan Jiddan
March 2nd, 2007 at 6:18 am
brother awie
antum baca lagi gimana jalannya para ulama salaf dalam menyikapi bid’ah.
Apa maulid khilafiyah?
Coba antum cari di kitab2 hadits apa pernah Nabi Muhammad atau sahabatnya atau tabiin atau tabiut tabiin merayakan maulid?
kalo ada buktinya dari hadis shahih maka saya akan ikut anda
Coba anda liat mauqifnya al banna..bagaimana dia ikut syfi hashofiyah…
bagaimana dia sering mengnjungi makam pimpinannya..
bagaimana dia sangat erat hubungannya dengan syiah yang mencela sahabat nabi..
Tugas ulama itu untuk membimbing umat agar tidak tersesat..
Pantaslah kalo mereka memperingatkan dari dai2 yang menyimpang dari manhajnya salafus shalih
March 3rd, 2007 at 6:27 pm
afwan ukht orang awwam naek..jangan diketawain yee..
buat anti..sumbernya ada di Rahiquul Maktum atau Sirah Nabawiyah Igbnu Hisyam ataupun ustadzuna khalid syamhudi sudah menjabarkannya di majalah assunnah bagian Sirahnya. buat Brother Awie..hehehe ana jak naek yuuk di forum Sunny Salafy siapa tahu masalah anta bisa diselesaikan nih url sumbernya
http://www.friendster.com/group/tabmain.php?gid=97310
tinggal join aja oke brother awie..namanya bagus lho..
April 27th, 2007 at 3:49 am
melvi sign is as ummu
afwan ye, baru main lagi ke artikel inih..yaks dari referensi yang ud ditulis abu yahya
May 1st, 2007 at 1:21 am
la ba’sa bihi ya ukhty melvi :’) sring2 mampir aja yah