Ketika Sunnah Tak Lagi Indah
Uncategorized 8 Comments »Sebentar lagi Ummat Muslim indonesia akan merayakan "Maulid Nabi besar Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam"Haruskah kita merayakannya?
Kita ketahui, para shohabat yang lebih ‘alim dari kita, paling wara’ ketimbang kita, paling dekat generasinya dengan Rasul kita, adakah dari mereka merayakannya? jawabnnya"sekiranya amalan itu baik tentu mereka(para sahabat) telah mendahuluinya[demikian ustadz Hakim bin Amir al Abdat mengatakan].
Peringatan Maulid Nabi bukan sekedar bid’ah melainkan adalah bagian dari tasyabuh’(menyerupai suatu kaum) di mana Kaum nasroni mempunyai hari di mana di kelahiran Isa al Masih. Bukankah ini suatu hal yang di ada-adakan?…Rasul sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6025)
Sampai kapan ummat ini akan kembali jaya seperti dulu, ketika kebid’ahan terus menggerogoti inti dari Islam itu yaitu sunnah. Kenapa? karena Imam al Barbahari mengatakan sunnah adalah Islam dan Islam adalah sunnah[lihat kitab aqidah Imam syafi'i]
Imam Malik rahimahulloh pun berkata"Islam ini tidak akan baik kalau tidak kembali seperti bagai mana para salaf(terdahulu) berislam…karenanya sakiranya para salaf terdahulu tidak melaksanakannya(Maulid) kenapa kita justru melaksankannya, dari mana di dapatkan suatu hujjah bahwa Maulid bagian dari Islam?…sekiranya Imam Syafi’i Masih hidup di tengah-tengah kita tentu beliau akan berlepas diri darinya(peringatan itu) karena beliaupun berkata dalam kitab arrisalahnya bab istihsan[1], begitu jug dalam al Ummnya jilid satu bab batalnya istihsan"haram bagi seseorangyang melakukan istihsan tanpa ada landsan dalil dari al qur’an dan as sunnah.[dengan teks mengalami perubahan].
Dari mana kita akan mendapat keterangan pahalanya sementara dalil yang menjelaskannya tidak ada, apakah dari kyai, ustadz atau nenek moyang kita? tidak segala hal tentang ibadah syari’ah datangnya bersifat tauqifi(menunggu dalil). Apa yang kurang dari apa yang rasul sampaikan? Ibnu Ummar pun pernah berkata"bid’ah itu jelek sekalipun kebanyalkan orang menganggapnya baik".
perhatikan ayat berikut:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِه أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِمَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَسَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّه مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآ ءَتْ مَصِيْرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah menguasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)
Sudahkah diri-diri kita, amalan-amaln kita, aqidah kita terbebas dari bid’ah?…semoga Alloh memberi kemudahan kepada kita agar keislaman kita seperti Islamnya generasi terdahulu, Islamnya para salafus sholih, Islamnya para shahabat ridwanallohu ‘anhum jami’an…
———–
1. Istihsan adalah menganggap suatu amalan itu baik tanpa landasan dalil yang menerangkannya.
