Hendaknya manusia menyadari bahwa Allah-yang telah menciptakan dirinya, memberinya rezeki dan memberinya keselamatan. Memberinya kenikmatan lahir dan batin.

Allah berfirman:

"Segala kenikmatan yang kamu dapatkan, adalah dari Allah." (An-Nahl 53)

Allah juga berfirman:

"Kalau engkau hendak menghitung nikmat-nikmat Allah, engkau tidak akan mampu membilangnya." (An-Nahl 18)

Adalah aneh bin ajaib, apabila ada seorang hamba berbuat maksiat kepada Allah, mengingkari nikmat-nikmat-Nya dan juga mengingkari keuta­maan dan kebaikan-Nya. Sementara nikmat-nikmat Allah terus mengalir kepada hamba tadi, sedangkan
hamba tersebut tetap saja berada dalam lembah maksiat, maka semua itu tidak lain adalah "istidraaj".

Allah berfirman:

"Nanti Kami akan menarik meneka dengan ber­angsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari anah yang tidak mereka ketahui.dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh." (Al-Qa lam 44 - 45)

Allah juga berfirman:

"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-­anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-­kebaikan kepada mereka Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar." (Al-Mukminun 55 - 56)

Demikian juga Allah berfirman:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membuka­kan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (Al-An’aam 44)

Dalam hadits shahih diriwayatkan dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah memanjangkan angan-angan orang yang zhalim, sehingga ketika Allah ambil bagian mereka, tak ada yang tersisa sedikitpun."

Sebagian ulama Salaf berkata: "Bisa jadi orang yang dipanjangkan angan-angannya oleh Allah dengan kenikmatan-Nya, dia tidak mengerti. Bisa jadi juga orang yang tergoda oleh sanjungan orang banyak terhadapnya, namun ia tidak menyadari. Bisa jadi juga orang yang tertipu oleh perlindungan Allah terhadap dosa-dosanya, namun ia tidak menyadari."

Ulama lain berkata: "Apabila engkau mengetahui bahwa Allah terus-menerus memberikan kenikmatan kepadamu padahal engkau berada dalam kubang kemaksiatan, sadarilah, bahwa itu adalah istidraaj."

Al-Ghazali –Rahimahullah– berkata: "Sungguh aneh apabila seorang hamba meremehkan perlindungan Alllah terhadap dosanya, kemurahan Allah dan ketika Allah membiarkan dirinya (tidak segera disiksa -ed.). Ia tidak menyadari bahwa Allah membiarkan dirinya disebabkan rasa marah-Nya, agar dengan pembiaran itu ia semakin bertambah dosanya. Namun ia menyangka bahwa peluang yang diberkan Allah kepadanya untuk berbuat maksiat adalah karena perhatian Alllah terhadapnya. Semuanya itu berawal dan rasa amannya terhadap siksa Allah dan ketidakmengertiannya terhadap bentuk-bentuk tipuan Allah.

[Dosa-Dosa Bahaya dan Pencegahannya, Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad,
Pustaka At-Tibyan, Maret 2001]