Aku Ingin Menciumu “Ibu”…

Uncategorized 2 Comments »

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak

mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah
dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.
Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat
saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali
memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat
cinta dan kasihmu kepadaku.

[ Sumber: MILIST FOSILRAM ]

Semoga bermanfaat!

Bersalaman [Berjabat Tangan] Setelah Shalat

Uncategorized No Comments »

Oleh:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan,
Syaikh Abdul Aiz bin Baz ditanya : Bagaimana hukum bersalaman setelah
shalat, dan apakah ada perbedaan antara shalat fardhu dan shalat
sunnah ?

Jawaban
Pada dasarnya disyariatkan bersalaman ketika berjumpanya sesama
muslim, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam senantiasa menyalami para
sahabatnya Radhiyallahu anhum saat berjumpa dengan mereka, dan para
sahabat pun jika berjumpa mereka saling bersalaman, Anas
Radhiyallahu anhu dan Asy-Sya’bi rahimahullah berkata :

Adalah para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila
berjumpa mereka saling bersalaman, dan apabila mereka kembali dari
bepergian, mereka berpelukan.

Disebutkan dalam Ash-Shahihain [1], bahwa Thalhah bin Ubaidillah
Radhiyallahu anhu, salah seorang yang dijamin masuk surga, bertolak
dari halaqah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di masjidnya menuju
Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu ketika Allah menerima taubatnya,
lalu ia menyalaminya dan mengucapkan selamat atas diterima taubatnya.

Ini perkara yang masyhur di kalangan kaum Muslimin pada masa Nabi
Shallallahu’alaihi wa sallam dan setelah wafatnya beliau, juga
riwayat dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

Artinya : Tidaklah dua orang muslim berjumpa lalu bersalaman,
kecuali akan berguguranlah dosa-dosa keduanya sebagaimana
bergugurannya dedaunan dari pohonnya? [2]

Disukai bersalaman ketika berjumpa di masjid atau di dalam barisan,
jika keduanya belum bersalaman sebelum shalat maka bersalaman
setelahnya, hal ini sebagai pelaksanaan sunnah yang agung itu
disamping karena hal ini bisa menguatkan dan menghilangkan permusuhan.

Kemudian jika belum sempat bersalaman sebelum shalat fardhu,
disyariatkan untuk bersalaman setelahnya, yaitu setelah dzikir yang
masyru. Sedangkan yang dilakukan oleh sebagian orang, yaitu langsung
bersalaman setelah shalat fardu, tepat setelah salam kedua, saya
tidak tahu dasarnya. Yang tampak malah itu makruh karena tidak
adanya dalil
, lagi pula yang disyariatkan bagi orang yang shalat
pada saat tersebut adalah langsung berdzikir, sebagaimana yang biasa
dilakukan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam setelah shalat
fardhu.

Adapun shalat sunnah, maka disyariatkan bersalaman setelah salam
jika sebelumnya belum sempat bersalaman, karena jika telah bersalaman
sebelumnya maka itu sudah cukup.

[Fatawa Muhimmah Tatallqu Bish Shalah, hal. 50-52, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar?iyyah Fi Al-Masa?il Al-
Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-
Fatwa Terkini, hal 199-200 Darul Haq]
_________
Foote Note
[1]. Al-Bukhari, Kitab Al-Maghazi 4418, Muslim kitab At-Taubah 2769
[2]. Abu Daud, Kitab Al-Adab 5211-5212, At-Turmudzi Kitab Al-Isti?
dzan 2728, Ibnu Majah Kitab Al-Adab 3703, Ahmad 4/289, 303 adapun
lafazhnya adalah : “Tidaklah dua orang Muslim berjumpa lalu
bersalaman, kecuali keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah”.

ISTIDRAJ (Kelebihan Yang Memperdaya) Berupa Kenikmatan

Uncategorized No Comments »

Hendaknya manusia menyadari bahwa Allah-yang telah menciptakan dirinya, memberinya rezeki dan memberinya keselamatan. Memberinya kenikmatan lahir dan batin.

Allah berfirman:

"Segala kenikmatan yang kamu dapatkan, adalah dari Allah." (An-Nahl 53)

Allah juga berfirman:

"Kalau engkau hendak menghitung nikmat-nikmat Allah, engkau tidak akan mampu membilangnya." (An-Nahl 18)

Adalah aneh bin ajaib, apabila ada seorang hamba berbuat maksiat kepada Allah, mengingkari nikmat-nikmat-Nya dan juga mengingkari keuta­maan dan kebaikan-Nya. Sementara nikmat-nikmat Allah terus mengalir kepada hamba tadi, sedangkan
hamba tersebut tetap saja berada dalam lembah maksiat, maka semua itu tidak lain adalah "istidraaj".

Allah berfirman:

"Nanti Kami akan menarik meneka dengan ber­angsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari anah yang tidak mereka ketahui.dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh." (Al-Qa lam 44 - 45)

Allah juga berfirman:

"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-­anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-­kebaikan kepada mereka Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar." (Al-Mukminun 55 - 56)

Demikian juga Allah berfirman:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membuka­kan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (Al-An’aam 44)

Dalam hadits shahih diriwayatkan dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah memanjangkan angan-angan orang yang zhalim, sehingga ketika Allah ambil bagian mereka, tak ada yang tersisa sedikitpun."

Sebagian ulama Salaf berkata: "Bisa jadi orang yang dipanjangkan angan-angannya oleh Allah dengan kenikmatan-Nya, dia tidak mengerti. Bisa jadi juga orang yang tergoda oleh sanjungan orang banyak terhadapnya, namun ia tidak menyadari. Bisa jadi juga orang yang tertipu oleh perlindungan Allah terhadap dosa-dosanya, namun ia tidak menyadari."

Ulama lain berkata: "Apabila engkau mengetahui bahwa Allah terus-menerus memberikan kenikmatan kepadamu padahal engkau berada dalam kubang kemaksiatan, sadarilah, bahwa itu adalah istidraaj."

Al-Ghazali –Rahimahullah– berkata: "Sungguh aneh apabila seorang hamba meremehkan perlindungan Alllah terhadap dosanya, kemurahan Allah dan ketika Allah membiarkan dirinya (tidak segera disiksa -ed.). Ia tidak menyadari bahwa Allah membiarkan dirinya disebabkan rasa marah-Nya, agar dengan pembiaran itu ia semakin bertambah dosanya. Namun ia menyangka bahwa peluang yang diberkan Allah kepadanya untuk berbuat maksiat adalah karena perhatian Alllah terhadapnya. Semuanya itu berawal dan rasa amannya terhadap siksa Allah dan ketidakmengertiannya terhadap bentuk-bentuk tipuan Allah.

[Dosa-Dosa Bahaya dan Pencegahannya, Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad,
Pustaka At-Tibyan, Maret 2001]


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in