Fenomena FS dan Testimonial
Uncategorized October 7th, 2005"Kamu ikut Friendster?" atau "Kirim aku testimonial
donk." Seperti itulah kira-kira pertanyaan dan
permintaan yang sering dilontarkan. Percaya atau
tidak, karena sangat ngetrendnya Friendster hingga
yang biasanya jarang menggunakan internet, bisa
menjadi berinternet ria. Atau yang semula gaptek
internet menjadi ingin belajar internet karena sangat
ingin bergabung dengan situs ini, bahkan orang-orang
yang belum ikut Friendster bisa dicap, ‘tidak gaul’.
Friendster bisa digunakan untuk memperluas jaringan
dengan manusia di seluruh dunia dan menjalin hubungan
yang hampir memudar dengan teman-teman kita.
Sampai-sampai kita bisa bertemu kembali dengan
teman-teman semasa di SD, SMP, SMU, dan seterusnya.
Friendster tidak hanya digunakan oleh individu, tetapi
bisa juga oleh lembaga.
Friendster.com tentu bukan situs haram karena
substansinya ia hanyalah fasilitas, dan halal haram
sangat tergantung bagaimana kita menggunakannya. Bila
kita bergabung karena ingin menjalin silaturahim
dengan teman-teman, tentu tidak masalah, justru
berpahala. Namun bisa menjadi masalah bila ternyata
digunakan untuk mencari cewek/cowok ganteng, bertemu
kecengan semasa SMU, menonjolkan kelebihan identitas
diri, pamer ketampanan/kecantikan di picture, dan
lain-lain, nah ini nih yang harus diluruskan; niat dan
caranya.
Banyak kalangan telah masuk ke situs ini, termasuk
kalangan aktivis da’wah yang tak mau ketinggalan untuk
memanfaatkannya sebagai ajang silaturahim dengan
sesama aktivis maupun teman-teman da’wah fardiyah agar
kian erat di dunia maya dan di dunia nyata.
Perkembangan teknologi memang sudah seharusnya
digunakan untuk memperluas basis da’wah.
Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika
bergabung dengan Friendster.com, yaitu pada
testimonial atau kesaksian. Di sini biasanya seseorang
memberi kesaksian tentang temannya. Dan berdasarkan
pengamatan penulis, jarang sekali didapati isi
testimonial itu berupa hal-hal yang buruk, umumnya
adalah pujian-pujian yang bisa melenakan si penerima.
Terlepas pujian itu jujur atau bohong, yang jelas
PUJIAN sudah dilontarkan dan si penerima
meng-approvenya.
Ketika seseorang menerima testimonial, tentu
sebelumnya ia sudah mengetahui isinya. Lantas,
layakkah pujian itu ditampilkan di depan khalayak?
Apatah lagi bila sampai mengoleksinya! Mengoleksi
pujian… Astaghfirullah, ya Rabbi…, sungguh bisa
membuat hati kotor. Rasulullah saw bersabda,
"Taburkanlah pasir ke wajah orang yang suka
memuji-muji." Mintalah fatwa pada hatimu, tentu engkau
rasakan kegelisahan karena mengoleksi pujian. Cukuplah
amal-amal itu tersiar di kalangan penduduk langit
saja.
Itulah yang harus dilakukan dari sisi si penerima
pujian. Sedangkan dari sisi si pemberi pujian,
‘Seorang memuji-muji kawannya di hadapan Rasulullah
saw, lalu beliau berkata kepadanya, "Waspadalah kamu,
sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya,
sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan
berulang-ulang)." (HR.Ahmad)
Mengapa dikatakan ‘memenggal leher’? Karena
hakekatnya, pujian itu bisa melenakan si penerima.
Bila tak kuat iman, pujian bisa membuatnya ujub
(bangga diri), riya (ingin dipuji), sum’ah (ingin
kebaikannya tersiar), sehingga hapuslah
pahala-pahalanya .Alangkah baiknya bila kita mengisi testimonial itu
dengan tausiah (nasehat) kepadanya. Ini akan lebih
menjaga saudara kita. Cukuplah pujian dan wujud
kekaguman itu disimpan dalam hati kita masing-masing
hingga akhir perjumpaan kita dengan-Nya, hingga
kemenangan hakiki menuju surga tercapai.
Akhirnya, fenomena Friendster harus disikapi secara
bijaksana dan diarahkan untuk mempererat silaturahim
dengan saudara-saudara kita di seluruh penjuru dunia.
Testimonials adalah bagian dari Friendster, namun bila
ternyata testimonial dapat menjerumuskan saudara kita,
adalah lebih baik dihindari. Jika engkau mencintai
saudaramu-saudaramu karena Allah dan inginkan
keselamatan akhirat mereka, please forward this
article to them. Jazakumullah.
Written by: Anugerah Wulandari
[Dengan sedikit pengEDITan]
August 24th, 2006 at 8:12 pm
Aku setuju dgn apa yg kamu utarakan.. tetapi lupakah dirimu bahwa Rosululloh SAW. juga menyuruh qta untuk mencintai saudara kita? salah satu tanda kita mencintainya ialah kita membicarakan kebaikannya saat dia ada ataupun tidak ada d sisi kita. menurutku, pujian yg diberikan itu kembali kpd org yg memberi/menerimanya. jika si pemberi memuji dgn sesuatu yg memang benar ada pd org itu gdn tdk berlebih2an dan si penerima tdk menanggapinya sbg sesuatu yg wah justru ia malu saat dipuji lalu meningkatlah ibadahnya,, (bukankah sahabat Rosul SAW pernah mengalaminya) it’s no problem.
ya ditekankan aja klo muji yg wajar, kan dipuji n mmuji hak tiap manusia..
jujur aja pasti seneng lah klo dipuji.
oh ya jgn lupa jg biar pd baca do’a smoga dilindungi ALLOH SAW dari sifat riya dkk.
oke deh. peace!
August 31st, 2006 at 7:06 am
actually,bukan aku kaly yg nulis ukhty :D..liat dunk,itu kan dah aku tulis tuh syapa penulisnya…
“biarlah penduduk langit yg tau”
yah..klo ana si jujur aja..lbih stuju sama pnulis tsb..insyaAlloh dalilnya sdh dsertakan..
Allahu a’lam bishowab
February 26th, 2007 at 2:35 am
ayo pindah blog, ke wordpress aja, no ads…
sayang masak tulisan islami disanding dengan gambar yg hati bikin hmmm
February 26th, 2007 at 5:37 am
Adam>
hmm…pengen si..tp nanti harus mulai edit dr awal lg dong :(… ana usahakan untuk cari cara menghilangkan advs dr blog ini…
syukron…
February 26th, 2007 at 8:19 pm
ngga juga kok, mumpung artikelnya blom banyak, kan tinggal copy pes…(belom ratusan kan? apa!? lebih? )
ada cara ngilangin banner, yaitu member berbayar, bukan free
February 26th, 2007 at 8:24 pm
oh ya satu lagi, hmm korbankan diri dikit biar lebih baik
sayang kan klo yg baca artikel ini terkena virusnya …
tar jadi punya maslahat dan madhorot dong! kan lo bisa kan mslahat yg lebih besar…
semoga bisa jadi pertimbangan
baarakallaahu fiik
February 27th, 2007 at 4:34 am
syukron Akh atas usulnya…moga bs ana pertimbangkan…