"Kamu ikut Friendster?" atau "Kirim aku testimonial
donk." Seperti itulah kira-kira pertanyaan dan
permintaan yang sering dilontarkan. Percaya atau
tidak, karena sangat ngetrendnya Friendster hingga
yang biasanya jarang menggunakan internet, bisa
menjadi berinternet ria. Atau yang semula gaptek
internet menjadi ingin belajar internet karena sangat
ingin bergabung dengan situs ini, bahkan orang-orang
yang belum ikut Friendster bisa dicap, ‘tidak gaul’.

Friendster bisa digunakan untuk memperluas jaringan
dengan manusia di seluruh dunia dan menjalin hubungan
yang hampir memudar dengan teman-teman kita.
Sampai-sampai kita bisa bertemu kembali dengan
teman-teman semasa di SD, SMP, SMU, dan seterusnya.
Friendster tidak hanya digunakan oleh individu, tetapi
bisa juga oleh lembaga.

Friendster.com tentu bukan situs haram karena
substansinya ia hanyalah fasilitas, dan halal haram
sangat tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Bila
kita bergabung karena ingin menjalin silaturahim
dengan teman-teman, tentu tidak masalah, justru
berpahala. Namun bisa menjadi masalah bila ternyata
digunakan untuk mencari cewek/cowok ganteng, bertemu
kecengan semasa SMU, menonjolkan kelebihan identitas
diri, pamer ketampanan/kecantikan di picture, dan
lain-lain, nah ini nih yang harus diluruskan; niat dan
caranya.

Banyak kalangan telah masuk ke situs ini, termasuk
kalangan aktivis da’wah yang tak mau ketinggalan untuk
memanfaatkannya sebagai ajang silaturahim dengan
sesama aktivis maupun teman-teman da’wah fardiyah agar
kian erat di dunia maya dan di dunia nyata.
Perkembangan teknologi memang sudah seharusnya
digunakan untuk memperluas basis da’wah.

Namun ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika
bergabung dengan Friendster.com, yaitu pada
testimonial atau kesaksian.
Di sini biasanya seseorang
memberi kesaksian tentang temannya. Dan berdasarkan
pengamatan penulis,
jarang sekali didapati isi
testimonial itu berupa hal-hal yang buruk, umumnya
adalah pujian-pujian yang bisa melenakan si penerima.
Terlepas pujian itu jujur atau bohong, yang jelas
PUJIAN sudah dilontarkan dan si penerima
meng-approvenya.

Ketika seseorang menerima testimonial, tentu
sebelumnya ia sudah mengetahui isinya. Lantas,
layakkah pujian itu ditampilkan di depan khalayak?
Apatah lagi bila sampai mengoleksinya! Mengoleksi
pujian… Astaghfirullah, ya Rabbi…, sungguh bisa
membuat hati kotor.
Rasulullah saw bersabda,
"Taburkanlah pasir ke wajah orang yang suka
memuji-muji." Mintalah fatwa pada hatimu, tentu engkau
rasakan kegelisahan karena mengoleksi pujian. Cukuplah
amal-amal itu tersiar di kalangan penduduk langit
saja.

Itulah yang harus dilakukan dari sisi si penerima
pujian. Sedangkan dari sisi si pemberi pujian,
‘Seorang memuji-muji kawannya di hadapan Rasulullah
saw, lalu beliau berkata kepadanya, "Waspadalah kamu,
sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya,
sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan
berulang-ulang)." (HR.Ahmad)

Mengapa dikatakan ‘memenggal leher’? Karena
hakekatnya, pujian itu bisa melenakan si penerima.
Bila tak kuat iman, pujian bisa membuatnya ujub
(bangga diri), riya (ingin dipuji), sum’ah (ingin
kebaikannya tersiar), sehingga hapuslah
pahala-pahalanya .
Alangkah baiknya bila kita mengisi testimonial itu
dengan tausiah (nasehat) kepadanya. Ini akan lebih
menjaga saudara kita.
Cukuplah pujian dan wujud
kekaguman itu disimpan dalam hati kita masing-masing
hingga akhir perjumpaan kita dengan-Nya, hingga
kemenangan hakiki menuju surga tercapai.

Akhirnya, fenomena Friendster harus disikapi secara
bijaksana dan diarahkan untuk mempererat silaturahim
dengan saudara-saudara kita di seluruh penjuru dunia.
Testimonials adalah bagian dari Friendster, namun bila
ternyata testimonial dapat menjerumuskan saudara kita,
adalah lebih baik dihindari.
Jika engkau mencintai
saudaramu-saudaramu karena Allah dan inginkan
keselamatan akhirat mereka, please forward this
article to them. Jazakumullah.


Written by: Anugerah Wulandari

[Dengan sedikit pengEDITan]